Aku
telah merangkai runtutan hari dari kepingan sisa waktu yang tak pernah usai
memandangi keindahan, salah satu hari di antaranya hanya akan kuberikan untuk
Dara. Untuk sementara kusimpan pada seikat pagi yang lekas mungkin berbinar di
waktu bersamaan.
Setelah
musim semi berakhir aku singgah di bawah awan yang hingga kini masih terlihat
samar. Sejenak turun dan kuperhatikan sekali lagi suasana di sekitar. Pepohonan
rindang yang diterpa angin, daun-daun kering yang tersentuh sinar mentari, ranting-ranting
yang jatuh, serta langit luas yang warna birunya tak akan pudar.
Perlahan aku
melangkah menuju suatu tempat di ujung sana
Aku melihat
seekor merpati putih yang hinggap di atas dahan. Mengebak sayapnya yang elok
berseri menelan angin pada sekelilingnya. Tidak jauh dari itu, berdiri putri
cantik memegangi setangkai mawar putih yang layu. Aku tak mengerti siapa dan
dari mana dia. Hanya saja yang kudengar para orang di sana menyebutnya, Dara.
Gadis jelita
yang telah lama kehilangan saparuh tentang dirinya.
Mengenakan gaun
panjang berwarna putih dengan uraian rambutnya yang panjang, pada sisi bahunya
terikai semacam garis nada yang tak henti-hentinya berpesan tentang dekap sang damai.
Dari kata yang
terucap, jari-jemariku akan selalu menulis tentangnya agar kelak tersimpan
abadi di dalam lembaran keinginan yang selalu kusimpan rapi serta melukis indah
raut wajahnya agar menjadi nyata berwarna.
Pada seikat
pagi, aku sempat bercerita kepada tubuh yang memiliki jiwa putih dan hampir
sempurna. Nada dan irama hatinya berjalan seiring dengan langkah-langkah yang
telah aku harapkan. Apabila terjatuh, aku sedikit mengerti kepada siapa tempat
berharap yang sebenarnya.
Seiring
rentang waktu ia menjadi satu dambaan. Dara memiliki sepasang bola mata indah
yang mungkin memaksa kepada siapa pun yang menatapnya akan diam.
Meski jauh
melewati ruang kedap suara, kali ini aku terpaksa berpura-pura agar pandangannya
tertuju dengan pasti. Hari-hari itu pernah aku lewati hingga tersimpulkan peran
atas luar biasanya buah dari kesabaran. Yang kupinta hanya lekaslah pulih
dengan membawa doa selamat hingga apa yang tertuju menjadi sebuah kenyataan.
Dari
tempat yang berbeda kulihat denting nada mencoba masuk ke dalam celah jendela
tempat ia beristirahat. Jika aku memiliki waktu dan kesempatan, ingin sekali
kubacakan dongeng pengantar tidurnya. Setelahnya kudoakan agar Tuhan
mengirimkan malaikat untuk menjaganya hingga pagi menjelang. Barangkali di
setiap helaian napas tidurnya, aku hadir menjadi mimpi indahnya.
(2020)

Komentar
Posting Komentar