Aku hendak bercerita tentang satu Peri
yang pernah hinggap pada sebuah tempat, tempat yang damai itu kusebut ruang
waktu. Dia bukan makhluk mitologi yang kerap dibicarakan orang-orang, melainkan
sesosok nyata yang pernah hadir menemani. Jari-jemarinya lembut dan putih,
helaian rambutnya hitam dan rapi, serta bola matanya bercahaya. Dia tak kurang
seperti pendamping yang memiliki beribu nada pengantar permintaan.
Ketika lonceng berbunyi sebelum melampaui batas yang
jauh, aku selalu berpikir menjadi dekat adalah alasan untuk menatap lebih dalam
tanpa berhenti jika suatu saat jalan yang dilalui berubah.
Dahulu di suatu gerbang kala baju yang
aku dan dia kenakan berwarna putih dan abu, bahu ini pernah berdekatan dan
sejajar. Berjalan beriringan di bawah terik yang panas. Matahari kala itu tak
segan berbicara, kita saling berbagi canda dan tawa hingga tersusun menjadi
sebuah cerita.
Esok hari di tengah iringan pohon cemara, di
selembar kanvas yang tandus aku dan dia melukis sebuah tempat dan hari yang
cerah. Warna-warnanya kita ambil dari corak yang membatasi harapan. Meski arah
yang kita gunakan berbeda tetapi hati kita tetap sama.
Kita juga pernah berteduh di kota yang hijau sekedar
mengamati rintik-rintik hujan di balik lembaran kertas. Di samping jembatan yang berwarna merah kita
mengawali cerahnya awan setelah curah yang deras, lalu muncul pelangi di sudut
ruang.
Pada halaman kedua, titik bifurkasi yang samar-samar
kita letakan di dalam kotak mimpi. Hari-hari yang panjang itu kita lewati
dengan membuka jendela sang fajar, menyentuh embun pagi yang dingin,
berlari-lari di taman yang luas, menyusuri jalan di bawah kupu-kupu yang penuh
warna, bermain-main dengan hujan, memandangi pelangi, membaca puisi di tepi
danau, mengayun dayung di atas perahu kecil, berteduh di bawah pohon kebaikan,
dan mengamati sore.
Hingga pada suatu ketika, matahari yang kita
ciptakan terbenam. Sayangnya tak ada senja setelahnya. Malam yang sunyi itu
menyimpan mimpi-mimpinya. Semua menjelaskan bahwa dahulu kita hanya pernah
berjalan searah. Saling melangkah. Meski di suatu titik kita merasa lelah. Hingga
akhirnya, kita sama-sama menyerah.
Din Ikhsanudin,
Bekasi 15 Maret
2020

Komentar
Posting Komentar