Simfoni


Suara yang terdengar ini menuntun membuka mata menuju pagi yang masih berharap tentang cerahnya. Tak seperti biasa, jiwa ini masih berbaring di antara pertanyaan yang sejauh ini juga masih membuat nyaman.

Setelah beberapa tahap telah dilalui apakah kau juga sama masih di tempat yang biasa kau sebut masa lalu ?

Apapun itu jauh dari apa yang telah tersimpan aku lebih memilih percaya bahwa kau lebih tangguh dari sebelumnya.


Di balik sesuatu yang Dia ciptakan dengan indah banyak sekali pelajaran yang bisa aku sentuh hingga terangkai menjadi kepedulian, kekhawatiran, ketulusan, meski separuh di antara sisanya adalah berjuang lebih kuat menahan pedihnya merelakan.


Jauh semakin melangkah semakin terlihat betapa jalan pikirannya tak bisa kusampaikan. Entah apakah karena raga yang melangkah terlalu jauh atau hati yang dengan ramah menepis rapuh. 


Waktu yang sempat berputar lambat kala itu membuat aku terbangun dari pekat.

Kini, di halaman dan ruang yang lapang ini aku masih tetap belajar memandangi langit di atas sana, sesekali menepi sebentar ketika hadir panas atau pun hujan.

Di balik awan yang putih aku akan bercerita tentang simfoni indah yang telah terciptakan, kepada warna putihnya aku akan bercerita tentang warna harinya.


Walau akan terjatuh, serpihan hatinya akan tetap memegangi rahasia yang sementara disembunyikan. 

Hingga jauh.

Hingga memudar.

Hingga nanti.

Hingga rasa sedihnya, terbingkai rapi.






(1-7-2020)


- d.i -

 

Komentar