Suatu hari nanti
aku akan menjelma menjadi selembar daun. Aku akan jatuh di atas rumput halaman
rumahmu. Di sana aku akan bermain-main, berlarian, menari, dan memandangimu.
Aku akan
melihatmu dari balik jendela tepat ketika sedang berdiri menyangga secangkir
gelas berwarna putih berisi teh yang hangat.
Sewaktu
mendekat, aku akan mendengarkan apa saja yang nanti akan kamu ceritakan.
Aku akan lupa
dengan diriku sendiri tentang bagaimana dahulu kamu pernah membuatku
bertekuk lutut akan kelemahlembutanmu. Meski telah berlalu cukup lama namun
bagiku waktu hanyalah perantara agar kita bisa saling lupa.
Tetapi jujur,
yang sulit untuk kulupakan adalah sederhananya sekadar bola matamu yang mencoba
dengan penuh anggun berkedip. Tidak banyak kata yang dapat aku ungkapkan ketika
semua itu menyatu lewat parasmu yang cantik. Bagiku saat aku menatap wajahmu,
saat aku memandangi jingga, keduanya sama indah.
Nanti jika kamu
bosan bercengkrama denganku, tentu kau boleh menutup pintu rumahmu. Tetapi
sebelum kamu pergi izinkan aku untuk berbaring di sini sebentar. Di halaman
rumah ini. Biarkan aku sendiri di sini hingga terbawa angin lalu menetap di
dekat pohon kebaikan.
Setidaknya kamu
tidak melihat rupaku seperti apa, sebab di selembar daun itu aku akan serupa
dengan apa yang telah tertulis menjadi satu kenangan yang jatuh sebagaimana
mestinya.
Selama apa pun
aku hinggap di bawah ranting-ranting yang ikut jatuh, aku tetap akan memilih
jatuh dalam satu perasaan denganmu. Tidak peduli apa jika nantinya aku
terperosok semakin dalam. Jika bagimu aku runtuh, kau salah. Sebaliknya
aku akan hidup utuh. Di sampingmu, sekuat hati.
Mentari telah
sampai di puncak, menepilah sebentar di teras rumahmu. Duduklah dengan tenang.
Aku tidak pernah rela apa pun menyentuh kulitmu meski sekilat terik matahari
ini. Biarlah putih menjadi lekat pada tiap lekuk tubuhmu. Bagiku kamu adalah
suatu keindahan yang telah Tuhan ciptakan dan harus sepenuhnya dijaga.
Dahulu aku
pernah menjaga semua yang ada pada dirimu sebelum pada suatu ketika dia datang
membawa apa yang kamu inginkan. Di saat itulah aku mulai tersadar menepi adalah
pilihan.
Aku percaya, dia
tidak lebih baik. Dia hanya lebih beruntung.
Dari teras megah
berhiaskan bunga-bunga serta marmer berwarna putih keabu-abuan aku melihat anak
kecil berlarian. Buah hatimu yang kaubuat dengannya dengan sepenuh hati.
Anak kecil
berambut panjang dengan wajah yang mengemaskan, lucu, dan begitu cantik. Sama
seperti ibunya.
Di sebelahnya
juga kulihat balita laki-laki yang baru saja selesai belajar berjalan. Dia
mulai pandai melangkah. Digenggamnya botol kecil di tangannya. Kulihat dia teramat
manis, wajahnya tampan.
Sama seperti,
aiiihh.. aku tak sampai hati menyebutnya.
Tak apa, sungguh
aku ikut bahagia melihat keluarga kecilmu. Aku biarlah seperti ini. Setidaknya
aku bahagia melihatmu bahagia dengannya. Tetaplah berpijar di sana, tetaplah
bahagia bersamanya. Seseorang yang telah kamu pilih.
Jagalah dia
baik-baik.
Lihat,
bayang-bayang sore telah menampakkan wajahnya. Angin yang berembus memintaku
untuk pergi. Baiklah.
Sejujurnya aku
belum jenuh memandangimu. Sampai kapan pun tidak akan pernah.
Jika nanti kamu
rindu, datanglah.
Aku masih di
tempat biasa. Di suatu taman yang dahulu kita pernah berjalan beriringan di
sana. Barangkali kamu masih mengingat sejalan nada dan suasana perpisahan di
dalamnya.
Datanglah
membawa semekar senyuman. Jika nanti di sana kamu melihat selembar daun yang
basah berembun, itu aku.
- d.i -

Komentar
Posting Komentar