![]() |
Ketika ada kata yang tak mampu aku ucapkan, ada batas di mana suaramu aku tulis pada kanvas dengan warna-warna kedewasaanmu
Kali
ini sungguh aku rindu tatapanmu yang menyejukan juga senyumanmu yang menghanyutkan
Tak
terasa kini waktu terus berputar
Dulu,aku
pernah menyimpanmu di kota hujan
Tempat
di mana aku takut ketika kau kedinginan
Menghirup
petrikor yang sesakan dada hingga menembus batin
Rintik-rintik
rindu yang berceceran menggenang di jalan kenangan
Membuat
licin dan hampir saja kau jatuh dalam pelukan
Tepat
malam ini, kau menyala sebagai nama yang aku rindukan
Nama
yang pernah singgah di keheningan malam untuk aku diskusikan dengan Tuhan
Nama
yang selalu melebur dengan doa-doa di akhir sujudku
Kau
sedang apa malam ini ?
Apakah
kau mendengar suara dari pena yang aku pegang ini ?
Berbicara
tentangmu
Tentang
pagimu yang sering kau isi dengan cerita bahwa aku hadir di mimpimu
Tentang
soremu yang sering kau isi dengan cerita bahwa kau suka bunga
Tentang
malammu yang sering kau isi dengan suaraku sebelum tidurmu
Aku
masih menyimpan satu kotak penghapus dosa yang aku gunakan ketika aku
merindukanmu
Ini
adalah kotak terakhir
Aku
hanya ingin menemuimu
Mengambil
setangkai rindu yang aku letakan di matamu
- d.i -
September 2019

Komentar
Posting Komentar