Relung Waktu

 



 

Kala aku berteduh di tepi yang setiap pasang matanya dapat berbicara dari kejauhan dengan sedikit terpaksa aku memilih diam, hanya kepada pendengar yang baik aku akan berbicara.

Di antara rumput-rumput yang hijau penuh derai semilir dia berbisik kepada sang kelopak bunga yang tandus, entah sebab terpaan panas mentari atau isi dadanya yang tak lapang itu aku mengamatinya. Dia lupa jika bukan hanya dia yang ingin dimengerti.

Ada cahaya yang aku kirim ketika begitu banyak cerita yang tak bisa kaudengar. Di sini tidak jauh berbeda, kuharap kau bisa duduk tenang menikmati damai dan seri pada pagi yang indah di sana.

Semakin kau berlari kearah berlawanan semakin yakin pula diri ini dengan apa yang telah sebelumnya tertulis. Terkadang seseorang akan diam lalu menilai orang lain dengan cara berbicara dan apa yang dibicarakan.

Kata yang tidak pernah aku lupa di ujung temu itu masih membekas di benak ini. Aku juga masih ingat lembut dan halus jari-jemarimu ketika kugenggam waktu itu ketika hujan turun dan membasahi pelupuk matamu. Aku masih berada di dalam relung waktu yang pernah kauceritakan.

 

 

(Din Ikhsanudin, 11 Juli 2021)

 

Komentar

Posting Komentar