Putih Abu-Abu

 




 

Di sudut ruang kelas aku pernah menulis satu catatan. Sebuah catatan yang kusimpan rapi di ruang imajinasi. Ruang yang tanpa sengaja aku ciptakan sendiri, di mana sisi jendela-jendelanya tercipta dari sinar mentari pagi dan daun pintunya terbentuk atas raut merekah senja sore hari. Aku percaya kelak suatu hari nanti catatan itu akan kubaca kembali.

 

Aku masih ingat raut wajah orang-orang yang berjasa. Yang pernah mengajarkan cara membaca, cara melihat, cara mendengar, sebelum seutuhnya menilai. Setiap helaian makna yang kutulis kala itu adalah garis cahaya yang akan mengantarkan pada suatu tempat yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka pernah mengatakan "Bermimpilah setinggi langit, gapailah bintang-bintang dan jadilah kejora yang bersinar terang". Begitulah kurang lebih suara yang ditangkap oleh daun telinga yang bahkan hingga saat ini masih menggema hingga ke dasar dada.

 

Selang satu dasawarsa berlalu, kurasa aku masih di tempat biasa. Entah apakah karena aku yang tak pandai berlari, atau terlalu nyaman berdamai di tepi, atau mungkin aku yang kurang pandai mensyukuri.

 

Tuan, tolonglah aku bagaimana cara keluar dari satu titik ini.

 

Berkali-kali aku menghitung lelah, bahkan kini aku telah lebih pandai dari bunga-bunga letih yang tertiup angin, batu karang yang dihempas sang ombak, dan pecahan-pecahan kaca yang tak bisa terangkai utuh kembali. Aku pernah merasakan sesaknya patah, pedihnya luka, dan jenuhnya menunggu.

 

Tentu, atau barangkali, di dekat pohon genus Picea yang kupandangi setiap pagi waktu itu kini masih menyimpan banyak cerita yang singgah sementara atau sebaliknya tumbuh menjadi kenangan selamanya. Dari setiap corak yang mewarnai tangga lalu turun sejenak pada sebuah tempat hamparan di mana kita sama-sama berdiri menatap mimpi. Seperti cerita tentang Peri yang pernah aku tulis di lain hari, aku masih di sini mencoba berdiri sendiri.

 

Bola-bola kecil yang kusentuh, papan hitam putih yang selalu diam kemudian tertawa, dan para kursi tempat duduk yang pandai mendongeng, menjadi pengiring cerita di kala hujan jatuh di bawah sinar matahari. Terik panasnya pernah reda ketika sempat kupandangi sejenak. Elok dan indah wajahnya menyadarkanku jika aku tak sepantasnya tak sadar diri.

 

Jika kuputar kembali dahulu kita pernah beramai-ramai bermalam sepi di tempat ini, berhiaskan hangat api yang menyala dan mendengar cerita-cerita yang membuat kita sama-sama tertawa. Berjalan melintasi keheningan, menanti sang fajar, dan menenggelamkan wajah ke dalam dinginnya udara di gerbang mentari.

 

Aku menjadi manusia aneh yang duduk terdiam di sudut jendela. Memandangi lalu lalang, dan sesekali menyendiri untuk membaca ulang sajak di tempat di mana buku-buku rahasia itu disandarkan.

Kita selalu memiliki kisah masing-masing yang dibalut sesal. Namun aku menyadari dari sanalah kita tumbuh dewasa.

 

Kali ini aku tidak banyak bercerita tentang kepedihan, hanya seikat bunga yang kuletakan di tepi barisan kata. Tidak banyak yang tahu.

 

Di akhir kata, aku ingin membaca ulang kembali catatan kecil yang kutulis tepat di  Sabtu malam. Ketika keheningan membawa malam menjadi tumbuh, tumpukan doa-doa yang jatuh, bintang-bintang sedang ramai bercerita, dan sang bulan yang sedang cantik-cantiknya, sepertimu.

 

Putih Abu-Abu

 

Tanpa sengaja kita bertemu

Bersama saling melengkapi

Menyatukan serpihan menjadi sebuah cerita

Tak terasa

Kini tiba waktunya mengetuk pintu masa depan

Suatu saat nanti kita akan punya kehidupan masing-masing

Dan semua ini akan menjadi bingkai kenangan di masa tua

Sampai jumpa, kawan

 

(26-05-2012)

 

- d.i -

Komentar